“Lolongan” Petani Singkong Terbuai Harapan Kosong

Ratusan hektar lahan tanaman singkong yang hasil produksinya dijadikan sebagai bahan dasar gaplek (singkong yang dikeringkan) kini hanya dibiarkan oleh pemiliknya tanpa dapat dipanen lantaran tidak tersedianya sarana pendukung dalam mengolah bahan baku tersebut. Umur tanam bahan pangan tersebut bahkan sudah dua kali lipat dari yang seharusnya 8 bulan.

 

Sedangkan jika dijual secara mentah akan rugi karena harga singkong yang sangat murah. Anjloknya harga singkong mentah karena banyaknya stok bahan gaplek ini di setiap daerah dan parahnya lagi petani menjadi latah ikut-ikutan menanam dalam skala luas bahkan sampai ada yang mencapai ratusan hektar sekali tanam tanpa ada perencanaan yang matang.  Hal ini tentu memerlukan perhatian dan campur tangan pemerintah  untuk mencarikan solusi guna menanggulangi banjir singkong tersebut agar dapat dimanfaatkan menjadi salah satu sentra ekonomi kerakyatan selain karet di kabupaten PALI.

Kurangnya pengetahuan tentang manfaat dan aneka makanan yang terbuat dari singkong serta informasi pangsa pasar  juga menjadi kendala petani untuk dapat menjadikan singkong sebagai komoditi unggulan penunjang perekonomian rakyat.

Seperti yang dikatakan Adi, 31 tahun petani singkong yang berasal dari desa simpang solar kecamatan talang ubi, selain sebagai petani singkong yang mengurus lahannya sendiri seluas lebih kurang 3 hektar, dia juga menjembatani beberapa kelompok tani singkong yang ada di desanya dalam usaha pembuatan gaplek secara manual.

Menurut Adi, lahan singkong yang ratusan hektare yang ada di Pali ini tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal lantaran petani belum mempunyai alat pengering (oven) singkong yang saat ini sangat dibutuhkan. Vakum (Oven ) adalah sebuah alat yang digerakkan oleh mesin untuk mempercepat proses pengeringan singkong menjadi gaplek dengan suhu tertentu dan teratur. Saya juga sudah mensurvey harga oven untuk kapasitas 40 ton/hari kisarannya mencapai Rp. 26.000.000,-/unit.  Kalau saja kita punya satu tentu hasil gaplek kita akan lebih maksimal, “ujarnya berharap.

Rencana bakal adanya pabrik singkong yang  sejak 2015 santer terdengar,  kini sedikitpun tak terdengar lagi kabar beritanya. Sosialisasi yang selalu digelar dan menyuarakan akan membantu UKM dan koperasi juga tidak diimbangi dengan realisasi. Hanya beberapa gelintir saja yang merasakannya,” tambahnya.

Husman Gumanti, SE,M.Si, Kepala dinas koperasi Kabupaten PALI dimintai keterangan di ruang kerjanya dalam menyikapi hal ini mengatakan  bahwa para petani kita kurang membaca prospek, kebanyakan hanya ikut-ikutan berkebun singkong tanpa tahu prospek menanam singkong selain dijual mentah. Singkong,  Kalaupun  dijual melalui koperasi akan percuma karena koperasi tidak mau rugi kalau harga jualnya murah,” ungkapnya.

Jika petani memang  mau mengolah singkong untuk membuat gaple, petani melalui kelompok tani dapat mengusulkan pengadaan peralatan yang diperlukan ke dinkop melalui anggaran APBD. Juga kita harapkan agar petani membuat koperasi sebagai wadah untuk memenejemen pengolahan gaplek, agar petani tidak lagi bekerja sendiri,” harapnya.

Dinas ketahanan pangan juga cukup berperan dalam hal ini, seperti dikatakan Panyadi, SH  kabid.Pengendalian dan pengembangan konsumsi pangan Dinas Ketahanan Pangan kabupaten Pali. Fungsi dinas memantau dan mengontrol ketersediaan pangan yang ada.

Menurut yang kami tahu memang terdapat ratusan hektar tanaman singkong petani yang tidak bisa diolah secara maksimal. Kami sarankan kepada petani untuk mencari alternatif lain dengan mengolah singkong menjadi bahan makanan lain atau pakan ternak,” paparnya.

Drs. Agen Eleidi, kepala dinas ketahanan pangan PALI menambahkan,hal ini harus ada lintas sektoral antar dinas terkait.

Dimulai dari dinas pertanian,dinas ketahanan pangan, dinas koperasi, litbang dan dinas perinduatrian dan perdagangan. Bahwa  singkong ini adalah bahan yang bisa menggantikan nasi yang bisa dijadikan bahan makanan lain dalam jumlah besar dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Oleh karena itu kita akan memberikan masukan kepada dinas terkait lainnya untuk dapat menjadi bahan diskusi bersama dalam mencari solusi.Harapan kedepan kita dapat membantu masyarakat keluar dari permasalahan.

Lain lagi dengan Badan Litbang kabupaten PALI, Romli Hopiah sebagai kepala badan menerangkan bahwa Benang merah litbang pada permasalahan pengolahan singkong menjadi gaplek atau bahan makanan lainnya hanya terletak pada finishing yang berupa pengolahann kemasan produk.

Bagaimana sebuah produk yang sudah jadi bisa menarik hingga layak dipasarkan,” ujarnya singkat.
Sebagai lembaga pengawas, DPRD tidak terlepas dari rencana Pemerintah dalam menentukan kebijakan yang diambil. Wacana yang dihembuskan Pemerintah untuk mendirikan pabrik singkong sejak 2015 lalu

Simpan

Simpan


Artikel Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *