Budaya Merantau

BUDAYA MERANTAU

( Sumber : Artikel Gamawan Fauzi )

 

 

Ke rantau madang di hulu

Babuah babungo balun

Merantau bujang dahulu

Di rumah baguno balun

 

Dalam tradisi Minangkabau, merantau merupakan kewajiban bagi bujang (pemuda). Seorang laki-laki dewasa dianggap belum berguna jika ia belum merantau dan belajar hidup di tanah orang. Tradisi merantau orang Minang bahkan bisa ditelusuri dari filosofi rumah gadang.

Rumah gadang atau rumah godang adalah rumah tradisional suku Minangkabau. Masyarakat setempat sering menyebutnya dengan rumah bagonjong atau rumah baanjung.

Sesuai paham matrilineal yang menganut garis keturunan ibu, rumah gadang adalah rumah adat bagi perempuan. Laki-laki tidak mendapatkan tempat di rumah tersebut. ”Setelah menginjak usia akil balik, mereka tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah gadang. Mereka tidur di surau atau masjid dan hanya pulang saat akan makan atau ganti baju,” keturunan pemilik rumah gadang kuno di Dusun Nagari, Desa Sumpu, Kecamatan Batipuh Selatan, Tanah Datar.

Menurut Alfa, anak laki-laki tidur di surau atau masjid untuk belajar mengaji sekaligus belajar hidup mandiri. Hingga usianya dewasa dan siap merantau,

Kampung Minang Nagari Sumpu yang usianya lebih dari 300 tahun. . Jarak perkampungan rumah gadang kuno yang terletak di dekat Danau Maninjau sekitar 20 kilometer dari kota Batusangkar. Perjalanan harus lewat perbukitan yang berkelok-kelok. Dari atas bukit, hamparan biru Danau Maninjau begitu indah.

perkampungan Nagari Sumpu. . terlihat atap rumah gadang yang menyembul seperti tanduk kerbau. Senja yang menyemburatkan warna jingga membuat atap rumah berkilauan.  Selain berdinding anyaman bambu, juga beratap seng. Kabar terakhir, lima rumah gadang di Dusun Nagari terbakar karena hubungan arus pendek listrik. Continue reading “Budaya Merantau”

Nafriadi Tanjung; Gagas Berkumpulnya Kembali Keluarga Minang

 Bicara soal adat istiadat, Suku Minang Kabau Sumatera Barat adalah salah satu suku yang masih dapat mempertahankan eksistensinya di era deraan moderenisasi seperti sekarang ini, bahkan suku dengan sebaran perantau  terbesar di dunia ini masih menjalankan sistem pemerintahan adatnya atau yang lazim disebut dengan Kanagarian.

Ada empat tingkatan adat di Minangkabau.

1. Adat Nan Sabana Adat

Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah oleh keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan hukum. Di dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati; atau adat babuhua mati.

Adat nan sabana adat bersumber dari alam. Pada hakikatnya, adat ini ialah kelaziman yang terjadi dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, adat Minangkabau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu melahirkan konsep dasar pelaksanaan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dan syarak mangato, adat mamakai. Dari konsep itu lahir pulalah falsafah dasar orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru.

Adat nan sabana adat menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di Minangkabau. Ia berfungsi sebagai landasan utama dari norma, hukum, dan aturan-aturan masyarakat Minangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan, dan peraturan-peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana adat.

Continue reading “Nafriadi Tanjung; Gagas Berkumpulnya Kembali Keluarga Minang”

Desa Pemekaran

Namun, jika dirunut kebelakang, dalam proses pemekaran suatu desa kerap dilakukan dengan berbagai rekayasa dan memaksakan-nya, padahal mestinya pemekaran atau bahkan perluasan desa adalah suatu yang alami, sehingga prosesnya juga haruslah alami, jikapun ada rekayasa untuk mempersiapkannya, rekayasanya juga harus berjalan alami, agar jangan terjadi desa setelah pemekaran malah menjadi tidak berkembang.

Hal ini perlu dicermati agar semangat perluasan dan pemekaran wilayah tidak hanya sekedar kepentingan “sesaat” atau keinginan kelompok ataupun kepentingan politik, termasuk hanya sekedar bagi-bagi kekuasaan sebagaimana yang dijumpai di tengah masyarakat.

Continue reading “Desa Pemekaran”

Salam Redaksi Perdana; CATUR SAKTI DESA

 

 

KAWULADESA; menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  ka-wu-la (n) 1. hamba sahaya; budak; abdi; 2. rakyat dari suatu negara; orang yang di bawah perintah suatu negara; pengikut; 3. saya; aku (untuk menghormat) ~~ de-sa/désa/(n) 1. kesatuan wilayah yang di huni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri; 2. kelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan; 3. udik atau dusun (dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan kata kota). Continue reading “Salam Redaksi Perdana; CATUR SAKTI DESA”


“Lolongan” Petani Singkong Terbuai Harapan Kosong

Ratusan hektar lahan tanaman singkong yang hasil produksinya dijadikan sebagai bahan dasar gaplek (singkong yang dikeringkan) kini hanya dibiarkan oleh pemiliknya tanpa dapat dipanen lantaran tidak tersedianya sarana pendukung dalam mengolah bahan baku tersebut. Umur tanam bahan pangan tersebut bahkan sudah dua kali lipat dari yang seharusnya 8 bulan.

 

Sedangkan jika dijual secara mentah akan rugi karena harga singkong yang sangat murah. Anjloknya harga singkong mentah karena banyaknya stok bahan gaplek ini di setiap daerah dan parahnya lagi petani menjadi latah ikut-ikutan menanam dalam skala luas bahkan sampai ada yang mencapai ratusan hektar sekali tanam tanpa ada perencanaan yang matang.  Hal ini tentu memerlukan perhatian dan campur tangan pemerintah  untuk mencarikan solusi guna menanggulangi banjir singkong tersebut agar dapat dimanfaatkan menjadi salah satu sentra ekonomi kerakyatan selain karet di kabupaten PALI. Continue reading ““Lolongan” Petani Singkong Terbuai Harapan Kosong”


Bhaktimu Polisiku – Sosialisasikan Agen Kamtibmas Lewat FESTIVAL DAOL COMBO DUG 2017

BAKTIMU POLISIKU sebagai tema HUT Bhayangkara Ke-71 pada tanggal 1 Juli 2017; tentu dijadikan momentum bagi jajaran Kepolisian Repulik Indonesia (POLRI) untuk melakukan serangkaian kegiatan berkenaan dengan tema peringatan hari lahirnya lembaga Tri Brata ini.

Begitupun halnya yang di lakukan Kepolisian Repulik Indonesia Resort (POLRES) Sampang di pulau Madura.
Selain melaksanakan upacara peringatan sebagai ceremony event Polres Sampang juga ikut menjadi punggawa pagelaran festisval budaya kesenian tradisional khas daerah DAOL COMBO – DUG 2017.

Acara yang digelar ba’da sholat isya’ hingga waktu mendekati subuh (2/7) keesokan harinya ini diikuti puluhan kelompok yang tergabung dalam paguyuban kesenian Daol.

Daol adalah salah satu ciri khas kesenian tradisional masyarakat Madura. Di Sampang tradisi yang sudah sejak lama ada ini kemudian berkembang hingga keseluruh Pulau Madura termasuk Kabupaten Pamekasan dan sekitarnya dengan ciri khasnya masing masing.

“Dengan Semangat Profesionalitas dan Modernisasi POLRI Berkomitmen Meraih Kepercayaan Masyarakat Demi Tetap Tegaknya Negara KEsatuan Republik Indonesia Yang Sejahtera, Mandiri dan Berkeadilan”

Sampang sendiri dengan Daol Combo nya yang terdiri dari alat musik perkusi kendang dan tambur plus suling tanpa terompet dan bedug. Sedikit berbeda dengan daol Pamekasan yang juga menggelar acara serupa dengan ciri khas mereka sendiri yaitu Daol Dug Dug. Continue reading “Bhaktimu Polisiku – Sosialisasikan Agen Kamtibmas Lewat FESTIVAL DAOL COMBO DUG 2017”


Bukan Bisnis Musiman, Hujan Laku Musim Panas pun Laku

BEKASI-kawuladesa.com Bisnis eceran Bahan Bakan Minyak (BBM) belakangan ini menjadi sorotan di beberapa daerah. Bisnis ini tidak akan mati mengingat kebutuhan BBM yang terus meningkat setiap tahunnya berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan gaya hidup masyarakat untuk memiliki kendaraan baik roda empat, roda tiga dan roda dua.

Alasan tersebutlah seningga banyak orang melirik bisnis BBM eceran menjadi bisnis yang anti rugi, simpel, minim resiko dan cepat balik modal, tingkat keberhasilan nya mencapai 99%… mengingat usaha ini bukan usaha musiman, Hujan Laku Musim Panas pun Laku. Continue reading “Bukan Bisnis Musiman, Hujan Laku Musim Panas pun Laku”